Satukan langkah, luruskan niat, sucikan hati bersama kita bangun generasi Rabbani.

Tampilkan postingan dengan label Syiroh Sahabat Rosulullah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Syiroh Sahabat Rosulullah. Tampilkan semua postingan

Senin, 03 November 2014

Imam Syahid Hasan Al-Banna “Sang Guru Dunia”


Sejarah mencatat dengan tintas emas seorang Guru mujahid (pejuang) dan mujtahid (pembaharu) yang bernama Imam Syahid Hasan Al-Banna. Beliau awalnya sebagai seorang guru madrasah di kampung halamannya di Negara Mesir namun pemikiran dan keshalihannya bisa membangkitkan umat dari kelelapan tidur yang panjang menuju cahaya Islam yang terang benderang. Semua ini, diawali dengan program pendidikan yang terarah dan berkesinambungan dengan pendekatan nurani. Hasilnya, murid dan pengikutnya tersebar di seluruh dunia dan Imam Syahid Hasan Al-Banna dijadikan sebagai simbol kebangkitan Islam dunia.Riwayat Kelahiran Imam Hasan Al-BannaImam Hassan Al Banna lahir pada Oktober 1906 di desa al Mahmudiya yang terletak di daerah Al Buhairah, Iskandariah, Mesir. Beliau berasal dari sebuah keluarga Ulama yang dihormati dan terkenal karena begitu kuat menaati ajaran dan nilai-nilai Islam. Mujahid Islam ini dibesarkan dalam suasana keluarga yang Islami dan hidupnya sangat sederhana. Sejak kecil Hasan Al-Banna dididik dalam rumah tangga yang mementingkan pengembangan daya pikiran dan ilmu pengetahuaan. Budaya membaca merupakan suatu hal yang dikembangkan ayah Al-Banna sehingga di rumahnya terdapat perpustakaan yang lengkap berisi buku-buku berkualitas para ulama-ulama besar dan pemikir-pemikir Islam sebelumnya.Hassan Al Banna merupakan anak sulung dari lima bersaudara. Ayahnya, Syeikh Ahmad ibn Abd al Rahman al-Banna adalah seorang ulama, imam, guru dan pengarang beberapa buah kitab hadis dan fiqih perundangan Islam, tamatan dari Universiti Al Azhar Mesir. Beliau dikenal sebagai seorang yang bersopan santun, pemurah, rendah hati dan tingkah laku yang menarik. Ayah Hasan Al-Banna bekerja sebagai tukang jam di desa al Mahmudiyah, untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Selebihnya ia gunakan untuk mengkaji, mendalami dan mengajar ilmu-ilmu agama seperti tafsir al Quran dan hadis kepada penduduk di daerahnya.Pendidikan Hasan Al-BannaSejak dini Hasan Al-Banna sudah ditempa oleh keluarganya yang taat beragama untuk meraih dan memperdalam ilmu di berbagai tempat dan majelis ilmu. Pertama kali beliau menggali ilmu di Madrasah Ar Rasyad, kemudian melanjutkan di Madrasah ‘Idadiyah di kota Mahmudiyah tempat beliau dilahirkan.Pada usianya yang masih muda, Hasan Al-Banna sudah memiliki perhatian yang besar terhadap persoalan pendidikan dan dakwah. Beliaupun mampu beraktivitas dalam menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar. Bersama teman-temannya di sekolah, dibentuklah perkumpulan “Akhlaq Adabiyah” dan “Al-Man’il Muharramat”. Melalui perkumpulan inilah beliau menyuarakan kebenaran dan melawan kebatilan. Kelihatannya memang sejak muda Hasan Al-Banna menginginkan sangat dakwah Islamiyah tegak dan kokoh di persada negeri Mesir.Pada tahun 1920 Hasan Al-Banna melanjutkan pendidikannya di Darul Mu’allimin Damanhur, hingga menyelesaikan hafalan Al-Quran diusianya yang belum genap 14 tahun. Beliaupun aktif dalam pergerakan melawan penjajah. Pada tahun 1923 beliau melanjutkan pendidikannya di Darul Ulum Kairo. Di sinilah Hasan Al-Banna banyak mendapatkan wawasan yang luas dan mendalam. Pendidikannya di Darul Ulum diselesaikan pada tahun 1927 M, dengan hasil yang sangat memuaskan. Luar biasa, beliau menduduki rangking pertama di Darul Ulum dan rangking kelima di seluruh Mesir dalam usianya yang baru menginjak 21 tahun.Semenjak di Darul Ulum Kairo, Hasan Al-Banna mendapatkan cakrawala berfikir lebih luas dan wawasan yang mendalam dan semakin giat dalam amal Islami. Bersama kawan-kawannya beliau melaksanakan dakwah di berbagai tempat, di masjid, di perkumpulan-perkumpulan, kedai kopi ataupun di club-club bahkan juga berdakwah di pasar atau tempat keramaian.Hasan Al-Banna Sebagai Seorang GuruSetelah menyelesaikan pendidikannya di Darul Ulum Kairo, Hasan Al-Banna bekerja sebagai guru Ibtidaiyah (setingkat SD) di Ismailiyah. Meskipun mendapatkan penawaran untuk melanjutkan pendidikan, namun beliau lebih menyenangi menjadi guru di Ismailiyah hingga 19 tahun beliau berkhidmat mengajar di sana.Sebagai guru SD (Ibtidaiyah), beliau disiplin dalam melaksanakan tugasnya. Dengan tanggung jawab penuh dan usaha maksimal, beliau mengajar dan mendidik muridnya. Hasan Al-Banna belum pernah terlambat datang ke sekolah (tempat kerja) karena beliau menyadari bahwa dirinyalah berperan sebagai guru yang harus memberikan keteladanan. Melaksanakan tugas dengan tulus ikhlas hingga beliau merasakan sebuah kenikmatan dan kebahagiaan dalam hidupnya. Hasan Al-Banna meyakini bahwa Allah telah menciptakannya diri menjadi seorang guru atau pendidik dalam melahirkan generasi yang tangguh untuk kebangkitan Islam.Hasan Al-Banna disenangi dan dihormati oleh murid-muridnya, para guru, kepala sekolah dan karyawan. Mereka pun mencintai usaha dakwah yang diemban Al Banna dan bergabung dengan kafilah penegak kebenaran tersebut. Makanya pengikut dan teman seperjuangan Hasan Al-Banna semakin hari semakin bertambah menandakan bahwa gerakan dakwahnya itu memberikan manfaat nyata dalam kehidupan umat.Kemudian suatu hal yang sangat mengagumkan berkaitan dengan kedisiplinan dalam mengajar adalah, “ Bila ada ikhwan (saudara) yang menelpon dirinya ketika sedang mengajar di kelas, kemudian petugas memberitahukan padanya. Maka beliau berpesan kepada petugas tersebut : “Katakan kepadanya, saya sedang mengajar dan tidak dapat meninggalkan kelas sebelum selesai jam pelajaran”. Subhannallah, begitulah komitmen Hasan Al-Banna dalam menunaikan tugas mulia ini dalam melahirkan kader bangsa.Sumber: dakwatuna.com

Read More

Minggu, 07 September 2014

Ketika Imam Syafi'i menyetor hafalan Qur'annya

IMAM Asy-Syafi’i adalah teladan ideal bagi setiap penuntut ilmu dan pencari kebenaran. Beliau seorang ulama’ besar yang pandangan madzhab fiqihnya dipakai mayoritas muslimin di negeri ini. Lahir dengan nama Muhammad dari kedua orang tua yang amat shalih, di Gaza Palestina. Bapak beliau bernama Idris, sedangkan ibunya bernama Fatimah. Di usia yang amat belia, ayah beliau wafat, sehingga sang ibu mengasuh Syafi’i kecil seorang diri. Ibunya yang memiliki nasab langsung kepada Imam ‘Ali bin Abi Thalib dari jalur Husain ra ini membawa Asy-Syafi’i ke Makkah agar bisa berkumpul bersama keluarga besarnya.
Perhatian serius diberikan oleh sang ibu untuk pendidikan Syafi’i. Disaat bermainnya ibu Asy-Syafi’i selalu membacakan Al-Qur’an di dekatnya agar anaknya dekat dengan Al-Qur’an. Dikisahkan sang ibu biasa mengkhatamkan Al-Qur’an dalam waktu beberapa hari saja, kemudian mengulangnya lagi dari awal. Wajar Syafi’i telah hafal keseluruhan Al-Qur’an di usia 7 tahun. Ibu Imam Syafi’i tidak mau membukakan pintu rumah jika Syafi’i pulang tanpa membawa ilmu dari majelis gurunya. Tidak lama setelah Syafi’i menghafalkan Qur’an, beliau juga menuntaskan hafalan Al-Muwatho’ karangan Imam Malik bin Anas, kitab fiqih yang berasal dari hadits-hadits Nabi saw.
Setelah itu Syafi’i memulai pengembaraannya untuk mencari ilmu dengan pergi ke Madinah. Ia belajar intensif kepada guru istimewanya, Imam Malik. Demikian pula sang guru pun begitu mengistimewakan Syafi’i karena kecerdasan dan kekuatan ingatannya. Di Madinah ini Syafi’i hidup prihatin. Di saat teman-temannya mencatat segala sesuatu dengan kertas dan papan, Syafi’i hanya mampu memunguti tulang dan dedaunan sebagai alas catatannya. Ketika melihat bahwa kamar beliau penuh dengan benda-benda tersebut, Imam Syafi’i memutuska

a
n untuk membakar dan membuangnya semuanya, dengan beliau hafalkan terlebih dahulu isi semua catatan tersebut.
Di usia 13 tahun Syafi’i telah menjadi pengajar tetap dalam sebuah halqah di Masjid Nabawi. Pelajaran dan fatwa beliau selalu ditunggu, padahal di usia itu beliau belum baligh. Kisah yang amat masyhur tatkala beliau meminta diambilkan minum di tengah-tengah pelajaran di siang hari bulan Ramadhan. Saat ditanya, “Wahai Imam, lupakah kamu bahwa ini bulan Ramadhan”. Ia menjawab ringan “Saya belum wajib puasa”. Kisah masyhur lain adalah saat beliau dalam perjalanan ingin menyetorkan hafalan kepada gurunya, Syafi’i muda tak sengaja melihat perempuan yang jilbabnya tersingkap sehingga terlihatlah betisnya. Syafi’i kehilangan hafalan kitab itu.
Pernah suatu kali Syafi’i mengeluhkan kepada gurunya tentang jeleknya progress hafalannya. Guru tersebut bernama Waki’. Maka sang guru memberi petunjuk kepada Asy-Syafi’i untuk meninggalkan kemaksiatan. Sang guru berkata, “Sesungguhnya ilmu itu adalah cahaya Allah, dan cahaya Allah takkan bercampur dengan jasad yang penuh dengan maksiat.” Masya Allah.
Petualangan beliau tak berhenti disitu. Syafi’i terus mengelana ke berbagai negeri untuk mencari pengetahuan lain yang belum beliau dapatkan. Ia pergi ke Yaman, Persia, dan Irak. Berguru dan berdiskusi dengan banyak ulama’. Di Irak ia bertemu dengan murid-murid Imam Abu Hanifah (pendiri Madzhab Fiqih Hanafiyah) yang dikenal sebagai ahli logika, dan pandangan fiqihnya cukup dipandang moderat. Ia juga berguru dengan Imam Ahmad bin Hanbal (pendiri Madzhab Fiqih Hambali) bahkan sempat beberapa hari menginap di rumahnya.
Keluasan pengetahuan Imam Syafi’i menjadikan diri beliau sangat disegani ulama-ulama di banyak negeri. Imam Syafi’i mendirikan madzhab ushul fiqih yang canggih, dan bisa dikatakan perpaduan dari pandangan guru-gurun yang berasal dari berbagai madzhab.
Setelah dari Baghdad Irak, Asy-Syafi’i kembali ke Madinah dan tinggal bersama Imam Malik selama 6 tahun hingga gurunya ini wafat. Beliau berpindah lagi ke Mesir untuk mencari tahu perihal pandangan ulama terkenal disana, Imam Laits. Namun sayang, setiba di Mesir, Imam Laits telah wafat pula, sedangkan tidak ada satu catatanpun beliau tinggalkan kepada muridnya.
Di Mesir pula, setelah berjumpa dengan banyak pandangan-pandangan yang berbeda, Imam Syafi’i memutakhirkan beberapa pendapat-pendapat beliau dalam bidang ushul fiqih yang tertuang dalam Kitab Ar-Risalah yang beliau tulis semasa di Irak. Pandangan baru Imam Syafi’i ini dikenal dalam khazanah keilmuan Islam sebagai Al-Qoul Al-Jadid. Beliau menetap selama enam tahun, menjadi rujukan utama bagi muslimin disana hingga beliau meninggal.
Imam Syafi’i mengharumkan bumi dengan cahaya ilmunya. Seorang faqih yang namanya abadi, menerangi dunia, dikasihi penduduk langit dan bumi. Inilah sekelumit kisah pembelajar sekaligus guru sejati, Rohimahullahu ta’ala Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i. Semoga kita diberi kemudahan dalam meneladani jejak-jejak beliau. []

Read More

Kamis, 21 Agustus 2014

Tentang sahabat ini, yang kisahnya penuh Bara yang selalu Merah

Ja’far bin Abi Thalib RA.

Ja’far bin Abi Thalib dikenal juga dengan julukan Jafar-e-Tayyar adalah putera dari Abu Thalib paman dari Nabi Muhammad, dan kakak dari Khalifah ke-4 Ali bin Abi Thalib. Ja’far dibesarkan oleh pamannya, Abbas bin ‘Abdul Muththalib, karena ayahnya yang miskin dan harus menghidupi keluarga besar.

Ada lima orang keturunan Abdi Manaf yang sangat mirip dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Jasmani Maupun Perangainya. Orang yang tidak jeli, terkadang susah membedakannya. Di antara kelima orang tersebut ialah Ja’far bin Abi Thalib, saudara kandung Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib. Dialah Sayyidul Asy-Syuhada, pemimpin para mujahidin, Abu Abdillah anak paman Rasulullah bin Abdul Mutthalib bin Hasim bin Abdi Manaf Al-Quraisy.

Dia dikenal sebagai orang yang sangat lemah lembut, penuh kasih sayang, sopan santun, rendah hati dan sangat pemurah. Di samping itu, ia juga dikenal sangat pemberani, tidak mengenal rasa takut. Beliau diberi gelar sebagai orang yang memiliki dua sayap di surga dan bapak bagi si miskin. Masuk Islam berkat ajakan Abu Bakar Ash-Shiddiq, tepatnya sebelum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke rumah Al Arqam.

Ketika orang Quraisy mendengar berita tentang masuk Islamnya, mulailah mereka membuat makar dan gangguan-gangguan dalam rangka melemahkan iman kaum muslimin. Mereka tidak ingin melihat kaum muslimin bisa tenang beribadah.

Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi izin untuk hijrah ke Habasyah, tanpa pikir panjang beliau bersama istrinya ikut serta dalam rombongan tersebut. Sungguh hal ini sangat berat bagi Ja’far, karena harus meninggalkan tempat kelahirannya yang ia cintai. Biar pun demikian, berangkatlah rombongan itu yang terdiri dari 83 laki-laki dan 19 wanita menuju Habasyah.

Penguasa Habasyah adalah Najasyi. Seorang raja yang terkenal adil dan bijaksana, serta suka melindungi orang-orang yang lemah. Sesampainya di Habasyah, mereka mendapatkan perlindungan dari Najasyi, sehingga bisa leluasa dan lebih tenang dalam beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Akan tetapi, ketenangan ini terusik. Yaitu tatkala orang-orang Quraisy mengetahui perlindungan keamanan yang kami dapatkan di Habasyah.

Ummu Salamah menceritakan:

Ketika orang-orang Quraisy mengetahui keadaan kami di Habasyah, mereka tidak ridha dan mengirimkan dua utusan untuk menemui Najasyi. Mereka adalah Amru bin Ash dan Abdullah bin Abi Rabi’ah, serta membawah hadiah-hadiah yang mereka berikan kepada para menterinya, dengan maksud agar tujuan serta niat mereka mendapat dukungan.

Ketika telah sampai di Habasyah, mereka segera menemui para menterinya serta menyerahkan hadiah tersebut seraya berkata, “Sungguh telah datang di negerimu orang-orang yang bodoh dari kaum kami yang keluar dari agama nenek moyang, serta memecah-belah persatuan. Maka, kalau kami berbicara kepada raja, dukunglah kami. Karena tokoh-tokoh kaum mereka lebih tahu akan mereka.”

Maka para menteri itu mengatakan, “Ya, kami akan mendukung kalian berdua.”

Setelah itu, masuklah mereka berdua menemui Najasyi dengan membawa hadiah yang banyak dan berkata, “Wahai Raja, sesungguhnya telah datang di dalam kerajaanmu orang-orang yang rendah dari kaum kami. Mereka datang dengan membawa agama yang tidak pernah kami ketahui atau engkau ketahui. Mereka keluar dari agama kami, tidak pula masuk kepada agamamu. Dan orang-orang yang mulia di antara kami telah mengutus kami, agar engkau mau mengembalikan mereka kepada kami dan mereka lebih mengetahui akan apa yang telah mereka perbuat,” maka Najasyi menoleh kepada para menterinya dan berkatalah mereka, “Benar wahai Raja. Sesungguhnya kaum mereka lebih mengetahui tentang mereka. Maka kembalikanlah orang-orang tiu kepada mereka.”

Mendengar hal itu, Raja Najasyi marah, seraya berkata, “Demi Allah, aku tidak akan mengembalikan mereka kepada kaumnya sampai aku menemui mereka. Sehingga aku bisa mengetahui, apakah yang telah dikatakan oleh dua orang ini benar? Kalau memang benar, maka akan aku kembalikan, mereka. Akan tetapi, kalau tidak, aku akan melindungi dan berbuat baik kepada mereka.”

Kemudian Raja Najasyi mengutus orang agar memanggil kami. Sebelum berangkat untuk menemuinya, kami berkumpul dan saling mengatakan, “Sesungguhnya Najasyi akan bertanya kepada kalian tentang agama kalian. Maka terangkanlah dengan apa yang telah kalian imani.” Dan kami bersepakat mengangkat Ja’far sebagai juru bicaranya.

Berangkatlah kami untuk menemuinya. Kami mendapatkan Raja Najasyi tengah duduk di antara para menterinya yang memakai pakaian kebesaran mereka. Kami juga mendapatkan Amru bin Ash dan Abdullah bin Abi Rabi’ah telah ada di hadapan mereka. Ketika semuanya telah siap, Najasyi menoleh kepada kami dan berkata, “Apakah agama yang kalian peluk, sehingga kalian meninggalkan agama kaum kalian dan tidak pula kalian masuk ke dalam agamaku atau agama yang lainnya?”

Maka berkatalah Ja’far bin Abi Thalib, “Wahai Raja, kami dahulu adalah orang-orang jahiliyah. Kami menyembah berhala, memakan bangkai, melaksanakan perbuatan keji, memutus silaturrahim, berbuat jelek kepada tetangga, yang kuat menekan yang lemah dan kami tetap berada dalam keadaan demikian, sampai Allah mengutus kepada kami seorang Rasul yang kami mengetahui nasabnya, kejujurannya, keamanahannya dan sangat memelihara diri. Dia mengajak kami agar beribadah hanya kepada Allah dan meninggalkan patung-patung yang disembah oleh nenek moyang kami. Dia juga memerintahkan kepada kami agar jujur dalam berkata, menunaikan amanah, menyambung silaturrahmi, meninggalkan perbuatan keji, memelihara darah, dan melarang kami dari berkata dusta, memakan harta anak yatim, menuduh wanita yang shalihah dengan perbuatan zina serta memerintahkan kami agar mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan. Maka kami membenarkannya, beriman kepadanya, dan mengikuti apa yang dibawanya dari sisi Allah. Kami menghalalkan apa yang dihalalkannya dan mengharamkan apa yang diharamkannya. Wahai Raja, ketika kaum kami mengetahui tentang apa yang kami lakukan, mereka memusuhi kami, menyiksa kami dengan siksaan yang berat dan berusaha mengembalikan kami kepada agama nenek moyang, dan agar kami kembali menyembah berhala. Maka tatkala mereka terus menekan kami, memaksa kami, akhirnya kami memilih engkau dari yang lainnya dan kami sangat berharap engkau berbuat baik kepada kami dan tidak menzalimi kami.”

Raja Najasyi kembali bertanya kepada Ja’afar, “Apakah engkau memiliki apa yang dibawa oleh Nabimu dari Allah?” Ja’far menjawab, “Ya.” Maka Raja Najasyi memerintahkan, “Bacakanlah untukku!” Ja’far pun membaca surat maryam.

Ketika mendengar ayat tersebut, menangislah Raja Najasyi, sehingga air matanya membasahi jenggotnya. Menangis pula para menterinya, sehingga basah buku-buku mereka. Dan Najasyi berkata, “Sesungguhnya, apa yang dibawa oleh Nabi kalian dan apa yang dibawa oleh Isa bin Maryam merupakan satu sumber.” Najasyi menoleh kepada Amru bin Ash dan berkata, “Pergilah kalian! Demi Allah, mereka tidak akan aku serahkan kepada kalian!”

Ketika kami keluar dari Istana Najasyi, Amru bin Ash mengancam kami dan berkata, “Demi Allah, besok pagi aku akan menemuinya lagi. Akan aku kabarkan dengan satu berita yang bisa membuatnya marah.”

Maka keesokan harinya, mereka kembali menemui Raja Najasyi dan berkata, “Wahai Raja, sesungguhnya orang yang engkau lindungi itu mengatakan tentang Isa, suatu perkataan yang besar!”

Raja Najasyi kembali memanggil kami, hingga kami merasa khawatir dan takut. Sebagian kami bertanya-tanya, “Apa yang akan kita katakan kepadanya tentang Isa bin Maryam?” Akhirnya kami bersepakat untuk mengatakan tentang Isa, sebagaimana yang telah dikatakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta kembali menunjuk Ja’far sebagai juru bicara. Kemudian kami datang untuk menemui Najasyi. Kami dapatkan Amru bin Ash telah berada di sana bersama temannya.

Bertanyalah Najasyi, “Apa yang kalian katakan tentang Isa bin Maryam?”

Ja’far menjawab, “Kami mengatakan sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Nabi kami.”

Najsyi berkata, “Apa yang dia katakan?”

Ja’far menjawab, “Dia adalah hamba Allah dan Rasul-Nya Ruh-Nya, kalimat-Nya, yang Dia berikan kepada Maryam yang suci.”

Mendengar hal tersebut, Najsyi memukul meja sembari berkata, “Demi Allah, apa yang dikatakannya sesuai dengan keadaan Isa bin Maryam. Pergilah kalian dengan aman. Siapa yang mencela kalian, dia adalah orang yang merugi. Dan siapa yang mengganggu kalian, dia akan disiksa.” Kemudian Najasyi berkata kepada para menterinya, “Kembalikanlah hadiah-hadiah itu kepada dua orang ini, karena aku tidak butuh kepadanya.” Akhirnya keduanya keluar dengan perasaan sedih, karena tidak berhasil melaksanakan apa yang mereka niatkan.

Ja’far bersama istrinya tinggal beberapa saat di Habasyah; bisa merasakan ketenangan serta lindungan dari Najasyi.

Pada tahun ketujuh hijriah, pergilah Ja’far bin Abi Thalib meninggalkan Habasyah untuk menuju ke Yatsrib. Sesampainya di Yatsirb, ia disambut hangat oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pada waktu itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam baru saja kembali dari perang Khaibar. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menemui Ja’far dan bersabda, “Sungguh aku tidak tahu, dengan yang mana aku merasa bahagia. Apakah dengan kemenangan Khaibar ataukah dengan kadatanganmu?!”

Selang beberapa lama, ia tinggal di Madinah. Ketika pada awal-awal tahun ke delapan hijriah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkehendak ingin mengirim pasukan untuk memerangi Romawi, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjuk Zaid bin Haritsah sebagai komandan. Beliau bersabda, “Kalau Zaid terbunuh, maka yang menggantikannya ialah Ja’far bin Abi Thalib. Jika ia terbunuh, maka yang menggantikannya ialah Abdullah bin Rawahah. Dan jika Abdullah terbunuh, maka biarlah kaum muslimin memilih bagi mereka sendiri.”

Kemudian beliau memberikan bendera berwarna putih kepada Zaid bin Hartisah.

Berangkatlah pasukan pasukan ini. Ketika telah sampai di daerah Mu’tah, kaum muslimin mendapatkan orang-orang Romawi telah siap dengan jumlah yang sangat banyak. Yaitu 200.000 (dua ratus ribu) tentara. Merupakan jumlah yang sangat besar. Jumlah sebegitu besar tidak pernah ditemui oleh kaum muslimin sebelumnya. Sementara jumlah kaum muslimin hanya 3000 (tiga ribu orang).

Ketika dua pasukan ini telah berhadapan, peperanganpun mulai berkecamuk, hingga Zaid bin Haritsah gugur sebagai sahid. Begitu melihat Zaid jatuh tersungkur, bergegas Ja’far melompat dan mengambil bendera, dan menyusup ke barisan musuh sambil melantunkan syair:

Wahai… alangkah dekatnya surga
Yang sangat lezat dan dingin minumannya
Romawi yang telah dekat kehancurannya
Wajib bagiku menghancurkannya apabila menemuinya.

Mulailah ia berputar-putar memporak-porandakan barisan musuh sehingga terputus tangan kanannya. Segera ia ambil bendera itu dengan tangan kriinya, kemudian terputus pula tangan kirinya sehingga ia gugur sebagai syahid. Setelah itu, bendera diambil oleh Abdullah bin Rawahah dan terus mempertahankannya dan akhirnya gugur juga sebagai sahid.

Ketika sampai kabar kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, tentang kematian tiga pahlawannya, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat sedih. Diriwayatkan bahwa pada tubuh Ja’far terdapat sembilan puluh sekian luka yang semuanya terdapat di bagian depan tubuhnya.

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pergi menuju rumah Ja’far bin Abi Thalib. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapatkan Asma sudah membuat roti dan memandikan anaknya untuk menyambut kepulangan sang ayah.

Asma menuturkan:

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menemui kami, aku mendapatkan wajah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat sedih. Maka timbullah perasaan takut pada diriku, akan tetapi aku tidak berani untuk menanyakannya. Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Suruhlah anak-anak Ja’far kemari. Aku akan mendoakannya,” maka bergegaslah mereka mendekat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bercengkerama dengan beliau. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merangkul mereka, mencium, serta berlinang air matanya. Maka aku berkata, “Wahai Rasulullah , apa yang menjadikan engkau menangis? Apakah ada sesuatu yang menimpa Ja’far?”

Beliau menjawab, “Ya, dia telah gugur sebagai syahid pada hari ini.” Sesaat hilanglah keceriaan yang terdapat pada wajah-wajah mereka, tatkala mendengar tangisan ibunya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku melihat Ja’far sebagai Malaikat di surga dan bahunya bercucuran darah dan ia terbang di surga.”

Inilah perjuangan Ja’far bin Abi Thalib. Dia memberikan semua yang dimilikinya untuk Allah dan Rasul-Nya. Semoga Allah meridhai Ja’far bin Abi Thalib dan menjadikan surga sebagai tempat kembali baginya. (Adi Abdul Jabbar dan Abu Unais)

Sumber: Majalah As Sunnah Edisi 4 Tahun ke-7
Read More